Sahabat Rhema, hari ini kami mau cerita tentang sebuah pertanyaan yang sering muncul justru setelah perjalanan selesai. Setelah menaiki lantai demi lantai, berdiri di mahkota, lalu memandang Perbukitan Menoreh dan hamparan sawah di bawahnya, langkah kaki turun kembali ke halaman. Di titik itu, mungkin Sahabat Rhema pun pernah diam sebentar lalu bertanya dalam hati, “Sebenarnya, untuk apa semua ini dibangun?”
Pertanyaan itu wajar. Banyak orang mengenal tempat ini lewat foto, lewat bentuk bangunannya yang unik, atau lewat sebutan populernya, Gereja Ayam. Tetapi bagi kami, Bukit Rhema tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai tujuan wisata religi Magelang yang selesai di galeri ponsel. Ada pelayanan yang berjalan di balik setiap tiket, setiap rombongan, dan setiap tamu yang datang. Tulisan ini adalah cara kami menjawabnya, bukan dengan daftar program, melainkan dengan cerita tentang apa yang ikut bergerak ketika Sahabat Rhema berkunjung.
Untuk rincian lengkap setiap program, Sahabat Rhema bisa membaca halaman Misi Sosial Bukit Rhema. Di sini kami ingin mengajak berhenti sejenak dan melihat maknanya.
Wisata religi Magelang yang tidak berhenti di foto
Semua berawal dari sebuah visi yang diterima Daniel Alamsjah pada 1988: “Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa bagi segala bangsa.” Kalimat itu bukan slogan di papan nama. Ia menjadi dasar mengapa bangunan ini terbuka untuk semua agama dan semua bangsa, tanpa terkecuali.
Karena itu, berwisata ke sini sebenarnya berarti masuk ke sebuah rumah doa yang juga sedang bekerja. Bangunan yang Sahabat Rhema jelajahi menopang sebuah ekosistem. Di halaman ekosistem kami, ada satu kalimat yang selalu kami pegang: “Kami tidak membangun unit usaha untuk membiayai misi. Kami membangun ekosistem agar misi terus bisa berjalan.”
Artinya, kunjungan bukan sekadar transaksi masuk dan keluar. Ia menjadi bagian dari putaran yang lebih besar, yang menyentuh orang-orang yang mungkin tidak pernah Sahabat Rhema temui secara langsung.
Ruang hening yang terbuka untuk siapa saja
Wajah pertama dari pelayanan itu adalah ruang doa itu sendiri. Di kawasan yang sama tersedia mushola untuk pengunjung Muslim, kapel untuk ibadah dan doa pribadi, Pondok Daud, serta 12 ruang doa pribadi di basement yang hening dan terbuka untuk siapa saja.
Situs kami mencatat wisatawan dari 120 negara pernah datang ke bukit ini, dengan latar agama dan budaya yang berbeda-beda. Yang kami syukuri bukan angkanya, melainkan kenyataan bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang untuk merasakan ketenangan yang sama. Kisah tentang ruang toleransi ini pernah kami tuliskan lebih panjang dalam artikel Rumah Doa Bagi Segala Bangsa.

Di salah satu sudut ada Wall of Hope, papan kayu yang dipenuhi lembaran kertas berisi doa dan harapan pengunjung. Tidak ada yang tahu isi tiap lembar, dan memang tidak perlu. Di dekatnya terpasang kalimat sederhana: “Doa Mengubah yang Tidak Mungkin Menjadi Mungkin.”
Ruang napas bagi mereka yang sedang pulih
Wajah kedua mungkin yang paling jarang terlihat oleh pengunjung. Tidak jauh dari Candi Borobudur, di lingkungan pedesaan yang tenang, berdiri Panti Rehabilitasi Betesda. Panti ini berdiri sejak 2011 dan berada dalam naungan yang sama dengan Bukit Rhema, yaitu Yayasan Sinar Bukit Rhema. Panti ini terdaftar di Dinas Sosial Kabupaten Magelang dan bekerja sama dengan BNN Provinsi Jawa Tengah.
Betesda melayani pemulihan dari gangguan jiwa, ketergantungan narkoba, kenakalan remaja, kecanduan judi online, hingga okultisme. Pendekatannya memakai sistem Home Care, yaitu memperlakukan setiap klien layaknya anggota keluarga, dengan terapi holistik yang memadukan sisi spiritual, medis, sosial, dan musik. Situs kami menyebut ada lebih dari 80 klien aktif.
Bagi para klien, Bukit Rhema menjadi semacam ruang napas. Kunjungan rutin ke bukit ini diagendakan sebagai bagian dari program persiapan kembali ke masyarakat. Berdoa bersama, menuliskan harapan, lalu naik perlahan dari lantai ke lantai. Kami sengaja tidak menceritakan siapa mereka atau apa kisahnya, karena itu milik mereka sendiri. Yang ingin kami sampaikan sederhana: ruang yang sama yang Sahabat Rhema nikmati juga menjadi bagian dari perjalanan pulih seseorang. Informasi resmi tentang layanannya ada di situs Panti Rehabilitasi Betesda.
Singkong desa yang naik kelas
Wajah ketiga lahir dari sebuah kegelisahan. Ketika wisatawan mulai berdatangan, dampak ekonominya belum sepenuhnya dirasakan warga sekitar. Dari situ muncul tekad untuk menjadi jembatan antara pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.
Hasil tani warga lokal kemudian diintegrasikan ke dalam ekosistem kuliner Bukit Rhema. Lewat kolaborasi dengan Kelompok Kerja Latela Dusun Gombong, singkong yang dulu hanya dijual mentah kini diolah menjadi Singkong Keju Latela. Dari 3 orang yang terlibat di awal pada 2017, kini 16 keluarga turut serta, bersama ibu-ibu PKK dan kelompok tani yang makin produktif. Latela juga tercatat dalam program Food Startup Indonesia 2020/2021 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Kami suka membayangkan bagian ini dengan cara yang membumi. Ketika sebuah rombongan datang, ada dapur yang bekerja, ada hasil kebun yang terserap, dan ada keluarga di desa yang ikut merasakan ramainya bukit ini.
Kelas Sabtu sore untuk anak-anak desa
Wajah keempat masih sangat muda. Sejak Agustus 2025, Bukit Rhema menginisiasi program Bukit Rhema Mengajar, kelas Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak desa di sekitar bukit. Kelasnya berlangsung setiap Sabtu sore di ruang meeting Kedai Bukit Rhema, dengan pengajar sukarela lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris.
Program ini dimulai dengan 14 siswa dan bertumbuh menjadi 28 murid hanya dalam hitungan minggu. Alasannya sederhana. Anak-anak ini tumbuh di tempat yang setiap tahun didatangi wisatawan mancanegara. Dengan kemampuan bahasa yang lebih baik, mereka diharapkan punya kesempatan yang lebih luas dan kepercayaan diri yang lebih tinggi di masa depan.
Apa artinya bagi Sahabat Rhema yang berkunjung
Kami tidak ingin siapa pun datang dengan rasa wajib berbuat sesuatu. Berkunjung, berdoa menurut keyakinan masing-masing, menikmati pemandangan, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan sudah cukup berarti.

Namun kalau Sahabat Rhema ingin kunjungan terasa lebih bermakna, ada beberapa hal kecil yang bisa dilakukan. Luangkan waktu duduk di ruang doa, bukan hanya berfoto di depannya. Hormati pengunjung lain yang sedang berdoa dengan menjaga suara dan tidak memotret mereka. Bacalah kisah di balik tempat ini sebelum atau sesudah datang, supaya yang terlihat bukan hanya bangunannya. Dan ceritakan kepada orang lain bahwa sebuah destinasi wisata religi bisa menjadi tempat yang ikut menopang sesama.
Bagi sekolah, komunitas, atau lembaga yang ingin merancang kunjungan pelayanan, retreat, atau sekadar ingin tahu lebih jauh tentang kelas Bukit Rhema Mengajar, pintu kami terbuka untuk berdiskusi.
Satu bukit yang terus belajar melayani
Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan “untuk apa semua ini?” tidak terletak pada tinggi bangunan atau luasnya pemandangan. Jawabannya ada pada orang-orang yang dilayani: mereka yang sedang pulih, keluarga di desa yang ikut berdaya, anak-anak yang belajar berani bicara, dan setiap tamu yang menemukan ruang hening untuk berdoa.
Kami percaya wisata dan pelayanan tidak perlu dipisahkan. Keduanya bisa berjalan di jalan yang sama, menanjak dari satu langkah ke langkah berikutnya. Jika Sahabat Rhema ingin bertanya tentang kunjungan pelayanan atau kelas Bukit Rhema Mengajar, silakan hubungi kami melalui WhatsApp 085725779520. Sampai jumpa di Bukit Rhema.
