Bangunan berbentuk merpati dengan mahkota ini memiliki 7 lantai — masing-masing dengan tema dan filosofi yang menggabungkan nilai religi, introspeksi, dan edukasi dalam satu perjalanan vertikal.
Bukit Rhema bukan sekadar bangunan tujuh lantai. Setiap lantai adalah sebuah ruang perenungan — dinding-dindingnya bercerita lewat lukisan, setiap sudutnya mengundang pengunjung untuk berhenti sejenak dan bertanya: Di mana aku dalam perjalanan hidupku?
Mulai dari doa di dasar, melewati lika-liku kehidupan di lantai-lantai tengah, hingga mencapai mahkota di puncak — ini adalah perjalanan spiritual yang bisa ditempuh siapa saja, dari agama manapun.
Lantai pertama adalah fondasi dari segalanya — tempat di mana pengunjung diundang untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke atas. Di sini tersedia 12 ruang doa pribadi yang hening, dirancang sebagai ruang perjumpaan personal dengan Yang Maha Kuasa.
Tidak hanya untuk satu agama. Di lantai ini juga terdapat Pondok Daud (untuk umat Kristen) dan Mushola (untuk umat Muslim) — berdampingan dalam satu atap, sebagai wujud nyata dari semangat toleransi yang menjadi DNA Bukit Rhema.
Galeri sejarah pendirian Bukit Rhema juga ada di sini — menceritakan perjalanan Daniel Alamsjah dari visi 1988 hingga bangunan ini berdiri tegak.
Naik ke lantai dua, pengunjung disambut oleh lukisan-lukisan yang bercerita — perjalanan panjang Bukit Rhema, termasuk masa-masa pandemi yang menghentikan langkah banyak orang, dan proses pembangunan kapel yang terus berjalan meski dunia terasa berhenti.
Tema lantai ini adalah tentang kehilangan dan menemukan cinta kembali — bahwa di balik setiap kehilangan, selalu ada kasih yang menunggu untuk ditemukan. Sebuah pesan yang relevan bagi siapa saja yang datang dengan beban di hatinya.
"Dinding-dinding di lantai ini bukan sekadar dekorasi. Ini adalah catatan harian sebuah visi yang terus dipercayai, bahkan di masa-masa paling gelap."
Lantai tiga mengajak pengunjung untuk menghadapi realita yang sering disembunyikan: bahwa banyak orang di sekitar kita sedang berjuang melawan ketergantungan, gangguan jiwa, dan kenakalan. Di sinilah edukasi bahaya narkoba disampaikan — bukan dengan menghakimi, tapi dengan kasih.
Terdapat pula maket gedung Bukit Rhema yang memperlihatkan keseluruhan bangunan secara tiga dimensi, dan cerita nyata tentang Panti Rehabilitasi Betesda — bagaimana orang-orang yang pernah dianggap tidak ada harapan, kini pulih dan kembali ke tengah keluarga mereka.
Di lantai empat, keberagaman Indonesia dirayakan. Batik, kain tradisional, dan motif-motif budaya dari berbagai penjuru Nusantara menghiasi ruangan — sebuah pengingat bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman.
Pengunjung dari 120 negara yang datang ke Bukit Rhema kerap berhenti lama di lantai ini — terpesona oleh kekayaan budaya Indonesia yang tampil berdampingan dalam keselarasan. Di sinilah Indonesia menyapa dunia dengan segala keindahannya.
Lantai lima adalah ruang pengetahuan. Infografik tentang Candi Borobudur — warisan dunia yang berdiri hanya beberapa kilometer dari Bukit Rhema — ditampilkan lengkap, menjadikan kunjungan ke sini tidak hanya spiritual, tetapi juga edukatif.
Informasi tentang Kota Magelang dan kawasan sekitarnya juga tersedia, bersama dengan pesan-pesan toleransi beragama yang disampaikan lewat visual yang kuat dan mudah dipahami oleh semua usia dan semua bangsa.
Lantai enam adalah tempat untuk menyepi. Dari sini, pemandangan langsung ke arah Candi Borobudur terbuka lebar — siluet stupa-stupa megah di kejauhan, dikelilingi hijaunya hamparan Menoreh. Hening yang berbicara lebih keras dari kata-kata.
Lantai ini juga dikenal sebagai lokasi pengambilan gambar film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) — menjadikannya salah satu spot paling ikonik di Bukit Rhema.
Di lantai ini terdapat mulut merpati gedung yang terbuka — sebuah filosofi: apa yang kamu ucapkan akan kembali kepadamu. Maka katakanlah yang baik, dan kebaikan itu akan membawa mahkota ke dalam hidupmu.
Ini adalah tujuan akhir dari perjalanan vertikal Bukit Rhema. Area terbuka di puncak mahkota menawarkan pemandangan 360 derajat yang tak tertandingi — hamparan Pegunungan Menoreh, siluet Gunung Merapi dan Merbabu di kejauhan, dan di bawah sana, kemegahan Candi Borobudur.
Mahkota bukan sekadar puncak fisik dari bangunan ini. Ia adalah simbol: bahwa kebaikan membawa mahkota. Bahwa perjalanan yang ditempuh dengan iman, ketekunan, dan kasih — selalu berujung pada sesuatu yang indah.
"Mahkota adalah simbol kebaikan dan kedudukan tinggi. Di sinilah pengunjung diajak untuk merenungkan: kebaikan apa yang ingin aku tinggalkan di dunia ini?"
Kunjungi Bukit Rhema dan rasakan sendiri perjalanan dari dasar hingga mahkota. Hubungi kami untuk reservasi dan informasi kunjungan.
Reservasi via WhatsApp →