BerandaTentang7 LantaiMisi SosialEkosistemGaleriBlogKontak
ID IndonesiaEN English中文 中文FR FrançaisDE DeutschNL Nederlands
Reservasi via WhatsApp

Rumah Doa Bagi Segala Bangsa: Kisah Toleransi di Atas Bukit Rhema

Barisan karyawan dan stakeholders berbaju adat pada upacara 17 Agustus 2026 di Bukit Rhema

Sahabat Rhema, hari ini kami mau cerita tentang satu kalimat. Bukan tentang spot foto, bukan tentang harga tiket, tapi tentang kalimat yang menjadi alasan sebuah bangunan berdiri di atas bukit di Kecamatan Borobudur, Magelang. Kalimat itu sederhana: rumah doa bagi segala bangsa. Dari kalimat itulah kami belajar arti menjadi rumah doa segala bangsa: tempat orang dari agama, suku, dan negara yang berbeda bisa datang, diam sejenak, lalu pulang dengan hati yang lebih lapang.

Banyak orang mengenal tempat ini lebih dulu lewat nama populernya, Gereja Ayam Borobudur. Kami tidak keberatan dengan sebutan itu. Dari kejauhan bentuknya memang mengundang tebakan. Tapi yang berdiri di atas Bukit Rhema sebenarnya adalah merpati bermahkota, dan di dalamnya tersimpan cerita tentang iman, kesabaran, dan keyakinan bahwa perbedaan bisa hidup berdampingan.

Kalau Sahabat Rhema pernah bertanya, “Sebenarnya Bukit Rhema itu tempat apa?”, tulisan ini adalah jawaban kami yang paling jujur.

Satu ayat yang menjadi nama sebuah bukit

Kisahnya bermula dari Daniel Alamsjah. Dalam catatan perjalanan beliau yang kami simpan di halaman kisah pendiri Bukit Rhema, diceritakan bahwa suatu hari, selesai berdoa, beliau melihat gambaran perbukitan dan sebuah Rumah Tuhan. Gambaran itu baru terasa maknanya ketika beliau berlibur ke Borobudur, kampung halaman sang istri, lalu diajak seorang pemuda desa naik ke bukit di Dusun Gombong. Bukit itu sama dengan yang pernah beliau lihat.

Tanah di bukit dibeli sedikit demi sedikit mulai tahun 1988. Setelah itu datang masa menunggu yang panjang, sekitar empat tahun, penuh doa dan ujian. Di masa itulah beliau menerima firman dari Yesaya 56:7, ayat yang ditutup dengan kalimat: “sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Ayat itu kemudian menjadi visi. Nama “Rhema” sendiri diambil dari bahasa Yunani, yang dalam catatan pendiri dimaknai sebagai firman yang hidup dan menjadi kenyataan. Jadi sejak awal, Bukit Rhema tidak dibayangkan sebagai tempat eksklusif bagi satu kelompok. Ia dibayangkan sebagai rumah yang pintunya terbuka.

Kami suka mengingat bagian ini setiap kali ada tamu yang bertanya kenapa bangunan sebesar ini tidak dipakai untuk misa rutin. Jawabannya ada di visi itu sendiri: tempat ini memang dibangun sebagai rumah doa, bukan gereja dengan misa rutin. Siapa pun boleh datang untuk berdoa dan menikmati kebesaran Tuhan lewat alam di sekelilingnya.

Terbuka untuk semua agama, tanpa terkecuali

Visi yang indah baru terasa nyata ketika diterjemahkan ke dalam ruang. Di lantai dasar Rumah Doa Bukit Rhema, ada dua belas ruang doa pribadi yang hening. Ruang-ruang ini terbuka untuk siapa saja. Setiap tamu boleh masuk, duduk, dan berdoa dengan caranya sendiri.

Di lantai yang sama, Pondok Daud untuk umat Kristen dan Mushola untuk umat Muslim berada berdampingan di bawah satu atap. Kami sering melihat ini sebagai pelajaran toleransi yang paling sederhana sekaligus paling kuat. Tidak perlu spanduk besar atau pidato panjang. Cukup dua ruang ibadah yang saling bertetangga, dan orang-orang yang saling memberi ruang ketika waktunya berdoa tiba. Selain itu ada Kapel untuk ibadah, doa pribadi, maupun kebaktian.

Ruang ibadah di dalam Rumah Doa Bukit Rhema dengan deretan bangku kayu
Ruang-ruang hening di Rumah Doa Bukit Rhema terbuka bagi siapa saja yang ingin berdoa dan merenung.

Di halaman misi sosial Bukit Rhema, kami menuliskannya dengan kalimat yang sampai sekarang terus kami pegang: Rumah Doa ini terbuka untuk semua agama dan semua bangsa, tanpa terkecuali. Ruang heningnya tersedia untuk berdoa, merenung, dan bertemu dengan Tuhan, apa pun agama yang dipeluk.

Bagi sebagian tamu, hal ini mengejutkan. Mereka datang membayangkan tempat wisata, lalu menemukan ruang yang mempersilakan mereka berdoa dengan keyakinan masing-masing. Bagi kami, justru di situlah inti Bukit Rhema Magelang: keramahan yang tidak menuntut orang menjadi sama dulu sebelum diterima.

Lantai empat: satu Indonesia, seribu warna

Bangunan merpati ini memiliki tujuh lantai, dan masing-masing punya tema sendiri. Perjalanan lengkapnya sudah kami ceritakan di artikel filosofi tujuh lantai dari dasar hingga mahkota merpati. Di tulisan ini, kami ingin berhenti agak lama di satu lantai saja: lantai empat, Keberagaman Nusantara.

Di lantai ini, batik, kain tradisional, dan motif budaya dari berbagai penjuru Indonesia menghiasi ruangan. Setiap helai membawa cerita daerahnya: cara orang di sana memandang alam, keluarga, dan Tuhan. Ketika semuanya dipajang berdampingan, pesan yang tersampaikan jelas sekali. Perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman.

Tamu dari berbagai negara yang datang ke Bukit Rhema kerap berhenti lama di lantai ini. Mungkin karena di sini Indonesia tampil apa adanya: beragam, berwarna, dan tetap satu. Untuk tamu dari dalam negeri, lantai empat sering menjadi pengingat yang hangat bahwa kain dari kampung halaman kita sendiri ternyata punya tempat terhormat di samping kain dari pulau lain.

Satu lantai di atasnya, Sudut Informasi menyambung pesan yang sama lewat infografik tentang Candi Borobudur, Magelang, dan pesan-pesan toleransi beragama yang mudah dipahami semua usia. Kalau Sahabat Rhema datang bersama anak-anak, dua lantai ini bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan tentang arti hidup bersama di negeri yang beragam.

Toleransi yang dihidupi, bukan sekadar diumumkan

Wisatawan dari 120 negara dengan beragam latar agama dan budaya telah datang ke Bukit Rhema. Angka itu sering kami sebut bukan untuk berbangga, melainkan sebagai pengingat tanggung jawab. Setiap tamu yang datang membawa cerita, keyakinan, dan harapannya sendiri. Sebagai rumah doa segala bangsa, tugas kami adalah memastikan semuanya merasa disambut dengan kasih.

Ada satu kalimat yang kami tuliskan untuk menggambarkan semangat itu: “Satu bukit, satu rumah doa, semua bangsa. Inilah wujud nyata toleransi yang kami hidupi setiap hari.” Kata “dihidupi” sengaja kami pilih. Toleransi bukan acara tahunan atau slogan di pintu masuk. Ia terjadi di hal-hal kecil: memberi jalan kepada tamu yang hendak ke mushola, menjaga suara ketika ada yang sedang berdoa di ruang hening, atau tersenyum kepada rombongan yang cara berpakaiannya berbeda dari kita.

Tamu dari beragam latar iman berdoa bersama di Rumah Doa Bukit Rhema
Di bukit ini, tamu dari latar iman yang berbeda disambut sebagai sesama.

Kami juga belajar bahwa toleransi tumbuh paling subur ketika orang saling bertemu langsung. Membaca tentang keberagaman itu baik. Tapi duduk di bangku yang sama dengan tamu dari keyakinan lain, sama-sama memandang perbukitan Menoreh dalam diam, sering mengajarkan lebih banyak daripada seribu kata.

Melayani lewat keramahan di meja makan

Visi rumah doa tidak berhenti di dalam bangunan. Di halaman ekosistem Bukit Rhema, kami menuliskan prinsip yang mungkin terdengar terbalik bagi sebagian orang: “Kami tidak membangun unit usaha untuk membiayai misi. Kami membangun ekosistem agar misi terus bisa berjalan.”

Salah satu wujudnya adalah Kedai Bukit Rhema, yang terletak di belakang bangunan Rumah Doa dan menghadap lembah hijau Menoreh. Kami memandang keramahan di meja makan sebagai bagian dari pelayanan, bukan sekadar urusan dagang. Hasil tani warga sekitar diolah menjadi sajian bagi tamu, dan lewat kolaborasi dengan Kelompok Kerja Latela di Dusun Gombong, enam belas keluarga kini ikut ambil bagian dalam ekosistem ini. Rekan-rekan dari Panti Rehabilitasi Betesda juga mendapat kesempatan berkarya di kedai, di toko, di kebun, dan di lapangan sebagai bagian dari perjalanan pemulihan mereka.

Ruang yang sama juga dipakai untuk hal yang jauh dari urusan makan. Sejak Agustus 2025, setiap Sabtu sore, ruang meeting di sana menjadi kelas Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak desa sekitar lewat program Bukit Rhema Mengajar. Bagi kami, inilah arti hospitality yang sesungguhnya: tempat yang menyambut tamu dari jauh juga harus menjadi berkat bagi tetangga terdekatnya.

Outbound yang menanamkan kebersamaan

Ada cara lain untuk belajar tentang keberagaman, yaitu lewat bermain bersama. Lapangan mini soccer di Bukit Rhema bukan hanya fasilitas olahraga. Bagi rekan-rekan Panti Rehabilitasi Betesda, lapangan ini adalah ruang pemulihan yang aktif. Di waktu lain, ia menjadi arena outbound dan outing bagi anak-anak sekolah dan komunitas di sekitar Borobudur.

Di lapangan, latar belakang tidak terlalu penting. Yang dibutuhkan adalah kerja sama, kesediaan mengoper bola kepada teman yang baru dikenal, dan sportivitas ketika kalah. Kami menuliskannya dengan sederhana: olahraga adalah bahasa yang semua orang mengerti. Anak-anak yang berlari bersama di udara segar bukit pulang dengan pelajaran yang sama berharganya dengan yang mereka dapat di ruang kelas. Teman satu tim bisa berbeda agama, berbeda daerah, berbeda logat, dan tetap satu tim.

Kalau Sahabat Rhema berencana membawa rombongan sekolah, gereja, masjid, kantor, atau komunitas lintas iman, kegiatan outing seperti ini bisa dirancang bersama tim kami. Rangkaian acara, jumlah peserta, dan waktunya sebaiknya dibicarakan lebih dulu supaya kegiatannya pas dengan kebutuhan rombongan.

Datang dengan hati yang siap

Kami ingin setiap kunjungan ke Bukit Rhema terasa bermakna, bukan sekadar singgah. Beberapa hal kecil ini biasanya membantu:

  • Beri ruang di area doa. Ruang doa pribadi, Pondok Daud, Mushola, dan Kapel adalah tempat ibadah. Jaga suara, dan biarkan yang sedang berdoa menikmati heningnya.
  • Berpakaian sopan. Sebagaimana ketika mengunjungi tempat ibadah lain, pakaian yang sopan membuat semua tamu merasa nyaman.
  • Luangkan waktu di lantai empat. Lihat kain-kain Nusantara satu per satu. Siapa tahu ada kain dari kampung halaman Sahabat Rhema di sana.
  • Datang pagi kalau ingin suasana lebih lengang. Pagi cerah sebelum musim hujan biasanya memberi udara segar dan pemandangan yang lebih jelas. Kalau ingin menyambut sunrise, panduannya sudah kami tulis di artikel sunrise di Bukit Rhema.
  • Bawa pulang satu pertanyaan. Misalnya: dengan siapa saya perlu lebih sering memberi ruang di rumah, di kantor, atau di lingkungan saya?

Apa yang bisa dibawa pulang dari bukit ini?

Kami percaya rumah doa segala bangsa bukan hanya nama sebuah tempat. Ia adalah undangan untuk siapa pun yang datang: undangan untuk berdoa tanpa takut, menghormati tanpa harus menjadi sama, dan melayani tanpa membeda-bedakan. Bangunan merpati bermahkota di atas bukit ini hanyalah wadahnya. Isinya adalah orang-orang yang mau saling menyambut.

Kalau Sahabat Rhema sedang mencari tempat untuk merenung bersama keluarga, mengajak murid belajar tentang keberagaman Indonesia, atau mempertemukan komunitas lintas iman dalam satu hari yang hangat, pintu kami terbuka. Untuk bertanya tentang kunjungan rombongan, kegiatan outing, atau sekadar ingin tahu lebih banyak, Sahabat Rhema bisa menghubungi kami lewat WhatsApp 085725779520.

Sampai jumpa di atas bukit. Datanglah sebagai tamu, dan semoga pulang sebagai sahabat.

Kembali ke semua artikel →