Sahabat Rhema, hari ini kami mau cerita tentang seorang pria yang pernah dikira orang gila oleh warga desa karena berdoa semalaman di atas bukit. Namanya Daniel Alamsjah. Malam itu ia sendirian, hanya berbekal kain sarung dan lampu senter, di bawah sebuah pohon di perbukitan Dusun Gombong, Borobudur. Puluhan tahun kemudian, di bukit yang sama berdiri bangunan merpati bermahkota yang kini dikenal banyak orang sebagai Bukit Rhema, atau dengan nama populernya, Gereja Ayam.
Banyak tamu yang datang ke sini sudah tahu bentuk bangunannya dari foto. Tapi tidak sedikit yang kemudian bertanya, “Siapa sebenarnya yang membangun tempat ini, dan kenapa?” Tulisan ini adalah jawaban kami. Bukan kisah tentang kemegahan bangunan, melainkan tentang iman, ketekunan, dan kesediaan untuk menunggu.
Pekan ini pun terasa pas untuk menceritakannya. Daniel Alamsjah lahir di Lampung pada 17 Oktober 1943.
Masa kecil Daniel Alamsjah yang jauh dari kata mudah
Kisah hidup beliau, seperti yang kami tuliskan di halaman profil pendiri Bukit Rhema, dimulai dari keluarga yang sangat sederhana. Hari-harinya sering hanya diisi makan jagung. Kalau ada nasi pun, nasinya bercampur banyak batu kecil.
Selama hampir dua tahun, ia bekerja sebagai kenek truk yang menaikkan dan menurunkan batu bata. Ada muatan atau tidak, hujan atau terik, tempatnya tetap di belakang bak truk. Akhirnya tubuhnya menyerah. Dokter mendiagnosis penyakit paru-paru, sementara ia tidak punya uang untuk berobat. Yang bisa ia lakukan hanya bersandar pada Tuhan, sambil didoakan rutin oleh pendeta di gerejanya. Kesembuhan itu datang, dan paru-paru yang pulih membuatnya lolos tes kesehatan di sebuah perusahaan trading ekspor-impor.
Dari sana, Daniel belajar ilmu kepabeanan secara otodidak, sampai bisa membuka kursus ekspor-impor dengan murid dari berbagai daerah. Tahun 1978, ia diterima di sebuah perusahaan asing ternama di Jakarta. Padahal pendidikan formalnya hanya Sekolah Rakyat, setara SD hari ini. Kariernya terus naik, dan rumahnya di Jakarta dibuka untuk persekutuan doa.
Kami selalu merasa bagian ini penting untuk diceritakan lebih dulu. Visi besar yang lahir kemudian tidak datang kepada orang yang hidupnya selalu lapang. Ia datang kepada seseorang yang sudah lebih dulu belajar bahwa hidup bisa berubah karena kemurahan Tuhan.
Penglihatan tentang bukit dan Rumah Tuhan
Suatu hari, selesai berdoa di lantai atas rumahnya, Daniel membuka mata dan melihat gambar perbukitan dan sebuah Rumah Tuhan di tembok. Hanya beberapa detik, lalu hilang. Saat itu ia belum tahu artinya.
Seperti biasa di masa libur Lebaran, ia dan keluarga pulang ke Borobudur, kampung halaman sang istri. Di sana, seorang pemuda desa bernama Jito hendak mencari rumput di bukit dan mengajaknya ikut naik. Sesampainya di atas, Daniel terheran-heran. Bukit itu sama persis dengan yang ia lihat dalam penglihatannya.
Kembali ke Jakarta, bukit di Dusun Gombong itu terus terbayang. Baru seminggu berlalu, ia sudah kembali lagi ke Borobudur. Sore itu ia ingin berdoa di bukit, meski mertuanya melarang karena bukit itu dianggap masih banyak ular dan dipercaya angker. Sekitar pukul lima sore, menjelang magrib, ia naik sendirian.
Doa semalaman dan dua ayat yang meneguhkan
Malam di bukit gelap dan dingin. Daniel memuji dan menyembah Tuhan dengan suara keras sampai tengah malam, hingga mulai kelelahan. Ketika membaca Alkitab, matanya tertuju pada 1 Tawarikh 28:10: “Camkanlah sekarang, sebab TUHAN telah memilih engkau untuk mendirikan sebuah rumah menjadi tempat kudus. Kuatkanlah hatimu dan lakukanlah itu.”
Ia membacanya berulang-ulang, lalu menangis. Dalam doanya ia sempat berkata bahwa dirinya bukan pendeta atau rohaniwan. Jawaban yang ia temukan ada di ayat ke-20 pasal yang sama: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau.”
Sekitar pukul empat pagi, ia turun dengan hati yang mantap. Warga yang mendengar teriakan doanya semalaman sempat bertanya apakah ada orang gila di bukit. Daniel hanya tersenyum.
Tahun 1988: tanah pertama dan iman yang diuji
Sebelum pulang, Daniel berpesan kepada mertuanya untuk memberi kabar jika ada yang ingin menjual tanah di bukit. Sepanjang perjalanan ke Jakarta ia berdoa: kalau ini memang rencana Tuhan, biarlah pemilik tanah yang datang ke Jakarta.
Seminggu kemudian, mertuanya benar-benar datang, diutus pemilik tanah. Tanah 2.000 m² ditawarkan seharga Rp8 juta, nilai yang di tahun 1988 setara gajinya setahun. Daniel menawar Rp1,5 juta. Sebulan berikutnya, datang tawaran lain: tanah 3.000 m² di Karangrejo seharga Rp2 juta. Ditawar Rp1,5 juta, dan pemiliknya setuju.
Masalahnya, ia tidak punya uang. Yang ada hanya deposito Rp2 juta, tabungan untuk biaya kuliah anaknya. Daniel memakainya. Seminggu kemudian, uang itu kembali lewat sebuah amplop dalam parsel Natal dari seseorang yang bahkan sudah ia lupakan. Setelah itu, tanah 2.000 m² yang semula ditawarkan Rp8 juta pun bisa dibeli seharga Rp2 juta. Dalam sekitar satu setengah tahun, terkumpul tanah seluas kurang lebih 1,5 hektare.
Menunggu empat tahun dan lahirnya nama Rhema
Memiliki tanah ternyata belum berarti bisa membangun. Pengajuan izin mendirikan bangunan tertahan karena tanda tangan yang dibutuhkan tidak kunjung diberikan. Di masa itu Daniel banyak belajar berdoa dan berpuasa, sampai suatu malam ia menerima firman dari Yesaya 56:7, yang ditutup dengan kalimat: “sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”
Kalimat itu menjadi visi. Tanah di bukit itu kemudian ia namakan Bukit Rhema. Rhema berasal dari bahasa Yunani, yang dalam catatan pendiri dimaknai sebagai firman yang hidup dan menjadi kenyataan.
Empat tahun menunggu bukan waktu yang singkat. Daniel sempat putus asa, bahkan menulis surat ke luar negeri untuk meminta bantuan dana. Surat balasan yang ia terima justru mengingatkannya bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan masalahnya dan Dialah sumber keuangannya. Sejak itu, menurut kisahnya, ia tidak lagi meminta tolong kepada manusia untuk proyek ini.

Jumat malam di kereta, selama lebih dari sepuluh tahun
Pembangunan dimulai tahun 1992. Di halaman tentang Bukit Rhema, kami mencatat bagian yang paling sering membuat tamu terdiam: selama lebih dari sepuluh tahun, Daniel masih bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta. Setiap Jumat malam ia naik kereta malam Jakarta–Purworejo. Sabtu dan Minggu memantau pembangunan di Magelang. Minggu sore kembali ke Jakarta. Senin pagi masuk kerja lagi.
Rutinitas itu tidak terdengar heroik. Tidak ada momen besar, hanya kesetiaan yang diulang minggu demi minggu. Tapi justru di situ kami belajar bahwa sebuah visi jarang selesai karena satu malam yang dramatis. Ia selesai karena ratusan perjalanan biasa yang tidak berhenti dilakukan.
Merpati di atas bukit, dikenal sebagai Gereja Ayam
Bangunan yang akhirnya berdiri berbentuk merpati bermahkota. Dari kejauhan banyak orang menyebutnya ayam, dan sebutan Gereja Ayam pun melekat. Namanya makin dikenal luas setelah lokasi ini menjadi tempat syuting film Ada Apa dengan Cinta? 2 pada 2016.
Kami tidak keberatan dengan nama populer itu. Yang lebih penting adalah isinya. Bangunan tujuh lantai ini memiliki tema di setiap lantainya, yang kisah lengkapnya bisa Sahabat Rhema baca di tulisan filosofi tujuh lantai Gereja Ayam. Di lantai basement tersedia dua belas ruang doa pribadi. Ada mushola bagi pengunjung Muslim, kapel untuk ibadah dan doa, serta area Naruastu, ruang terbuka untuk doa, perenungan, dan pertemuan rohani.
Apa arti “segala bangsa” bagi pengunjung hari ini
Visi yang diterima Daniel Alamsjah tidak pernah membayangkan tempat yang hanya untuk satu kelompok. Siapa pun boleh datang untuk berdoa dan menikmati kebesaran Tuhan lewat alam di sekelilingnya. Hari ini, menurut catatan kami, tamu dari 120 negara pernah berkunjung ke Bukit Rhema. Bagi kami, angka itu bukan untuk dibanggakan. Ia adalah tanda bahwa kalimat dari Yesaya 56:7 yang dulu terdengar mustahil, perlahan menemukan wujudnya.

Visi itu juga terus melebar. Di usia lebih dari 70 tahun, Daniel mendirikan Panti Rehabilitasi Betesda tidak jauh dari lokasi, untuk mendampingi mereka yang berjuang melawan narkoba, gangguan jiwa, kenakalan remaja, dan okultisme. Ceritanya kami tuliskan di halaman misi sosial Bukit Rhema. Dari rumah doa, tumbuh pula ekosistem yang menyentuh kuliner, fashion, olahraga, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya Kedai Bukit Rhema, tempat kami belajar bahwa menyambut tamu di meja makan juga bagian dari pelayanan.
Kalau Sahabat Rhema ingin melihat sisi lain dari visi ini, yaitu bagaimana ruang-ruang doanya hidup berdampingan, kami pernah menuliskannya di kisah rumah doa bagi segala bangsa.
Pelajaran dari sebuah bukit di Gombong
Ada tiga hal yang selalu kami bawa dari perjalanan Daniel Alamsjah, dan mungkin bisa Sahabat Rhema renungkan juga:
- Visi tidak menunggu kita siap. Ia datang kepada seorang lulusan Sekolah Rakyat yang merasa dirinya bukan rohaniwan.
- Menunggu adalah bagian dari membangun. Empat tahun tanpa izin dan lebih dari sepuluh tahun perjalanan Jumat malam bukan jeda, melainkan proses.
- Pintu yang terbuka lebih kuat daripada tembok yang tinggi. Rumah doa ini dibangun untuk segala bangsa, dan itu tetap menjadi alasan kami menyambut setiap tamu dengan hangat.
Datang ke bukit, mendengar kisahnya sendiri
Kalau suatu hari Sahabat Rhema berdiri di depan bangunan merpati ini, cobalah berhenti sejenak sebelum masuk. Bayangkan bukit yang sama sekitar tahun 1988, ketika belum ada bangunan apa pun dan seorang pria naik sendirian menjelang magrib membawa sarung dan senter. Semua yang terlihat hari ini berawal dari doa semalam itu.
Bukit Rhema berada di kawasan Gombong, Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Datanglah dengan pakaian sopan dan hati yang siap mendengar, terutama di ruang-ruang doa. Untuk bertanya soal kunjungan rombongan atau kegiatan bersama komunitas, Sahabat Rhema bisa menghubungi kami lewat WhatsApp 085725779520.
Sampai jumpa di atas bukit. Semoga kisah tentang ketekunan ini ikut menguatkan langkah Sahabat Rhema.
