BerandaTentang7 LantaiMisi SosialEkosistemGaleriBlogKontak
ID IndonesiaEN English中文 中文FR FrançaisDE DeutschNL Nederlands
Reservasi via WhatsApp

Ekosistem Rhema: Dari Bukit Rhema ke Kedai, Sunrise, dan Pengalaman Lengkap

Ilustrasi Bukit Rhema Magelang saat sunrise dengan siluet Rumah Doa berbentuk merpati bermahkota

Sahabat Rhema, banyak orang datang ke bukit ini dengan satu tujuan: melihat bangunan berbentuk merpati bermahkota yang sering mereka lihat di foto. Mereka naik, menikmati pemandangan, lalu turun untuk makan atau membeli oleh-oleh. Semua itu terasa seperti beberapa tempat terpisah yang kebetulan berdekatan.

Hari ini kami mau cerita tentang benang merah yang menghubungkan semuanya. Di Bukit Rhema Magelang, Rumah Doa, Kedai Bukit Rhema, toko Daun Bukit, kebun hidroponik, lapangan mini soccer, dan camilan Latela bukan sekadar daftar fasilitas. Mereka adalah satu ekosistem yang tumbuh dari satu misi, dan setiap kunjungan Sahabat Rhema ikut menjadi bagiannya.

Satu kalimat yang menjadi akar

Di halaman ekosistem Bukit Rhema, ada satu kalimat yang menjadi pegangan: “Beradaptasi Menjadi Garam Yang Asin dan Terang Yang Bersinar Bagi Sesama.” Kalimat ini bukan slogan untuk dipasang di dinding. Ia menjelaskan cara Bukit Rhema memandang dirinya, yaitu hadir untuk menjadi berkat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi banyak orang.

Ada kalimat lain yang sama pentingnya: “Kami tidak membangun unit usaha untuk membiayai misi. Kami membangun ekosistem agar misi terus bisa berjalan.” Perbedaannya halus tetapi mendasar. Unit-unit di bukit ini tidak dilihat sebagai mesin uang yang kebetulan menyumbang. Mereka adalah ruang tempat misi itu sendiri dijalankan setiap hari.

Halaman yang sama mencatat 6 unit ekosistem aktif, lebih dari 80 klien panti yang ikut berkarya, 16 keluarga petani yang terlibat, dan pengunjung dari 120 negara. Angka-angka ini memberi gambaran skala, tetapi ceritanya ada pada cara unit-unit itu saling terhubung.

Rumah Doa sebagai inti

Semua bermula dari Rumah Doa Bagi Segala Bangsa. Bangunan 7 lantai berbentuk merpati ini terbuka untuk semua agama dan semua bangsa. Di basement terdapat 12 ruang doa pribadi, sementara mahkota di puncaknya menawarkan pemandangan 360 derajat.

Rumah Doa disebut sebagai alasan mengapa semua unit lain ada. Ia inti yang menghidupi apa pun yang tumbuh di sekitarnya. Bagi Sahabat Rhema yang ingin memahami makna setiap tingkatnya, kami sudah menuliskannya dalam filosofi 7 lantai dari dasar hingga mahkota.

Ilustrasi mahkota Rumah Doa Bukit Rhema dengan latar lembah hijau dan perbukitan berkabut
Ilustrasi: dari mahkota di puncak, lembah hijau terbentang ke segala arah.

Sunrise yang menjadi awal hari

Bagi banyak pengunjung, pengalaman di bukit ini dimulai sangat pagi. Puncak Bukit Rhema menjadi tempat menyambut sunrise dengan pemandangan ke arah Borobudur. Momen ini sering menjadi pintu masuk untuk mengenal sisi lain ekosistem, karena setelah sunrise, langkah biasanya berlanjut ke meja makan.

Kalau Sahabat Rhema ingin merencanakannya, kami punya tulisan tentang menikmati sunrise di Rumah Doa yang membahas waktu dan persiapannya.

Kedai Bukit Rhema, dari ladang ke meja

Tepat di belakang bangunan Rumah Doa, Kedai Bukit Rhema menghadap lembah hijau Menoreh dengan udara segar khas pegunungan Magelang. Halaman ekosistem menyebutnya bukan hanya tempat makan, melainkan titik awal petualangan. Menu yang paling sering disebut adalah Ayam Bakar Nusantara, Singkong Keju Latela, dan Kopi Cinta.

Dari Kedai, cabang pengalaman bertambah: tempat makan rombongan dengan menu Nusantara halal, ruang meeting, katering nasi box, dan VW Safari untuk berkeliling desa wisata. Namun yang membuat Kedai berbeda adalah asal sebagian bahannya. Sayuran dari kebun hidroponik di lahan Bukit Rhema ikut menjadi bahan pangan segar untuk dapurnya, dan singkongnya datang dari petani di sekitar bukit.

Ilustrasi seorang perempuan berhijab dan bercelemek menyiapkan hidangan di meja dapur yang terang
Ilustrasi: menyiapkan hidangan dengan sepenuh hati, salah satu wajah kerja di dalam sebuah ekosistem.

Latela: cerita singkong yang naik kelas

Di balik Singkong Keju Latela ada ibu-ibu petani dari Kelompok Kerja Latela Dusun Gombong. Nama Latela sendiri berasal dari singkatan nama dusun. Singkong diambil langsung dari ladang mereka, diolah di dapur Kedai Bukit Rhema, lalu disajikan kepada wisatawan dari berbagai negara.

Menurut halaman ekosistem, program ini berkembang dari 3 orang menjadi 16 keluarga yang terlibat aktif, bersama Ibu PKK dan kelompok tani. Dari desa ke dunia, begitu halaman itu menggambarkan perjalanan camilan sederhana ini. Sepiring singkong keju di meja Sahabat Rhema membawa cerita tentang dapur-dapur di dusun sekitar bukit.

Daun Bukit, ruang berkarya

Unit berikutnya adalah Daun Bukit, ruang berkarya sekaligus toko oleh-oleh premium di kawasan Bukit Rhema. Di bawah satu atap hadir tiga brand: Daun Bukit untuk souvenir dan fashion lokal, Denmasbatik.com dengan koleksi batik khas Magelang, dan Waytruthlife.id dengan kaos bermakna. Kain batiknya disebut dibuat oleh pengrajin lokal.

Ada satu hal yang membuat toko ini lebih dari tempat belanja. Beberapa desain produknya dibuat langsung oleh anak-anak Panti Rehabilitasi Betesda. Setiap barang yang dibawa pulang ikut menjadi bagian dari perjalanan pemulihan mereka.

Kebun hidroponik dan lapangan mini soccer

Di atas lahan bukit, tumbuh sayuran yang dirawat setiap hari melalui program pertanian hidroponik. Kebun ini punya dua peran: menyediakan bahan segar untuk Kedai, sekaligus menjadi media agro-edukasi. Rombongan sekolah dan keluarga bisa datang untuk memahami bagaimana makanan tumbuh, dan anak-anak panti belajar bercocok tanam di sini.

Tidak jauh dari sana ada lapangan mini soccer. Bagi rekan-rekan Panti Rehabilitasi Betesda, lapangan ini menjadi ruang pemulihan aktif untuk bergerak dan bermain. Di waktu lain, ia menjadi arena outbond dan outing bagi anak-anak sekolah dan komunitas sekitar Borobudur. Halaman ekosistem menuliskannya dengan sederhana: olahraga adalah bahasa yang semua orang mengerti.

Benang merah: tempat mengasah talenta

Kalau semua unit itu disatukan, benang merahnya adalah kesempatan. Anak-anak Panti Rehabilitasi Betesda, baik yang tidak memiliki tempat tinggal maupun yang akan segera kembali ke masyarakat, diberi ruang untuk berkarya langsung di kawasan Rumah Doa Bukit Rhema: di kedai, di toko, di kebun, dan di lapangan.

Karena itulah setiap kunjungan, setiap pembelian, dan setiap waktu yang dihabiskan di bukit ini ikut ambil bagian dalam perjalanan mereka. Kisah lebih lengkap tentang sisi pelayanan ini bisa Sahabat Rhema baca di tulisan kami tentang misi sosial Bukit Rhema.

Cara mengalami ekosistem Bukit Rhema Magelang dalam satu kunjungan

Tidak perlu terburu-buru untuk merasakan semuanya. Satu kunjungan bisa dimulai dengan sunrise di puncak, dilanjutkan naik ke lantai-lantai Rumah Doa, lalu sarapan atau makan siang di Kedai Bukit Rhema sambil memandang lembah Menoreh. Setelahnya, mampir ke Daun Bukit sebelum pulang. Bagi rombongan sekolah atau keluarga, kebun hidroponik dan lapangan mini soccer bisa menjadi bagian dari agenda.

Kawasan Bukit Rhema Magelang buka setiap hari pukul 06.00 sampai 19.00 WIB dan berada di kawasan Borobudur, dekat Punthuk Setumbu. Untuk reservasi atau pertanyaan, Sahabat Rhema bisa menghubungi 085725779520 atau [email protected].

Setiap langkah adalah bagian dari cerita

Bukit ini sering dikenal lewat satu bangunan ikoniknya. Padahal yang hidup di sekitarnya jauh lebih luas: dapur yang mengolah singkong dari dusun tetangga, kebun yang mengajarkan kesabaran, toko yang menyimpan karya tangan, dan lapangan tempat orang menemukan kembali sukacita. Ketika Sahabat Rhema datang, menikmati, dan pulang membawa sesuatu, Sahabat ikut menjadi bagian dari ekosistem yang terus bertumbuh di atas Bukit Rhema.

Kembali ke semua artikel →